Andri Aririn, warga warga Kampung Leuwiorok RT 012/005, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ia awalnya merintis usaha skala kecil, namun kini semakin berkembang hingga mampu meraup omzet miliaran Rupiah per bulan.

Merintis Usaha Jual Minyak Goreng Kemasan
Meskipun Andri pernah selama 8 tahun menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Al Fatah, Magetan, Jawa Timur, namun jiwa bisnis yang diwarisi dari orangtuanya sangat memengaruhi perjalanan hidupnya saat ini.
Diketahui, sejak kecil ia hidup bersama orangtuanya yang membuka usaha produksi tempe di Kampung Leuwi Orok. Hal itulah yang membuat Andri kemudian semakin tertarik terjun ke dunia bisnis.

Pria yang hobi mendaki gunung ini merintis usaha jualan minyak goreng kemasan dengan modal awal hanya Rp18 juta. Seiring perkembangan usahanya yang terus berkembang, ia kembali menambah modal usahanya.
Kini, suami dari Sakinah Qurrota A’yun itu pun sudah dua tahun jalan menggeluti bisnis minyak goreng kemasan yang kini sudah meraup omzet Rp2,5 miliar hingga Rp2,7 miliar per bulan.
Dibantu dua pekerja, Andri terus berupaya mengembangkan bisnisnya yang ia rintis sejak 2022 itu.
“Awalnya modal saya kecil, karena baru merintis, sekira 18 juta Rupiah,” kenang Andri.
Diakuinya, banyak kendala dan tantangan ia hadapi. Namun, Andri yakin bisnisnya tersebut akan semakin berkembang. Terlebih, minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang selalu dibutuhkan masyarakat.
“Kalau kendala, yang paling utama itu persaingan dengan pemilik modal besar. Jadi sekarang murah itu sudah bukan lagi pilihan, karena kalau pemodal besar berani kasih pembayaran dengan tempo. Banyak grosir lebih menyukai pembayaran dengan tempo dari pada harga lebih murah,” kata dia.
Namun, berkat kegigihannya menjalankan usahanya itu, ia tetap mampu bersaing. Buktinya, permintaan terhadap minyak goreng terus meningkat. Bahkan, Andri kemudian kembali menyuntik modal usahanya menjadi total Rp150 juta.
“Karena terus berkembang dan permintaan meningkat, lalu saya tambahin modalnya jadi total 150 juta Rupiah,” ungkapnya.
Dengan tambahan modal sebesar itu, kini dalam sebulan Andri sanggup menjual hingga 14 ribu karton (setiap karton berisi 12 botol atau standing pouch). Dengan demikian, dalam satu bulan ia berhasil memasarkan sekira 168 ribu botol.
“Nilainya memang lumayan besar, omzetnya sekira 2,5 miliar per bulan. Namun, kalau jualan sembako itu kan enggak kayak bisnis lain yang bisa ngambil untung besar,” kata Andri.

Diakui pria yang juga imam salah satu masjid jami itu, ia hanya mengambil keuntungan bersih sebesar satu persen saja. Dengan demikian, dalam sebulan ia bisa mengantongi untung sekira Rp20 juta hingga Rp25 juta.
“Saya hanya ngambil untung sekira satu persen aja. Omzet juga kan gak stabil, ada turun naik juga, tergantung musim,” papar Andri.
“Kalau keuntungan kotor sekira 40 jutaan, tapi saya juga dibantu yang kerja dua orang. Kalau barang saya selalu nyetok di gudang,” tambah dia.
Rencana ke Depan
Lebih jauh, Andri mengaku masih ingin mengembangkan sayap bisnisnya. Namun, saat ini ia tengah menimbang usaha lain yang memiliki potensi lebih besar.
“Saya merencanakan membuka usaha lain, tapi inginnya sih gak jauh dari sembako juga. Biar satu arah lah gitu. Jadi masih menimbang-nimbang mana yang paling potensial lebih menguntungkan,” tutup pria yang hobi trading saham itu.